“19 JILID RAHASIA HATI WANITA”


Hijaunya padi mulai menguning, begitupun usiaku saat ini semakin bertambah. Jatahku hidup di dunia ini semakin berkurang. Kasih dan sayangnya yang tak terikra masih melekat dalam jiwa dan raga ini. Lembutnya tangan mengusap air mataku, tenangnya senyum yang menentramkan jiwaku, tegarnya jiwa yang telah mendidikku. Sering kali saat kau ingin makan kau bilang “aku sudah kenyang, makanlah nak…” Padahal ku tahu pasti cacing-cacing diperutmu sudah sangat kelaparan. Saat ku tak tidur, sengaja kau bangun dan mengatakan “aku belum mengantuk..” Nyatanya ku tahu matamu lelah, tubuhmu semakin lemah. Tapi kau korbankan ragamu untukku. Banyak hal yanga kau korbankan hanya untukku seorang,

Tahun demi tahun telah kujalani, saat aku bayi dulu. Aku tak tahu apapun tentangmu, saat aku bernjak menjadi anak-anak. Baru ku sadar engkaulah yang telah tuhan titipkan untuk menjaga, mendidik dan membesarkanku. Saat itu, aku hanya tahu kau selalu ada untukku, disampingku dan selalu menemaniku. Remajapun tiba menyapaku, saaat itu aku mulai sadar kau banyak menyembunyikan rahasia dalam hatimu. Sat itu ku teringat kau bercerita betapa masa kanak-kanakmu kau korbankan untuk saudaranu, meski dirimu hanya lulus di sekolah dasar, ah.. tidak, sekolah dasarpun kau tak selesai. Kecerdasanmu dalam mendidik anakmu tak terkalahkan, ikhlasnya hatimu tak terbayarkan. Kau telah menjadikan kepala sebagai kaki, dan kai sebagai kepala hanya untuk anak-anakmu. Ribuan kilo jalan yang kau tempuh, jutaan keringat kau cucurkan, meski kakimu lelah, tubuhmu letih, kau bejuang untukku. Sungguh inginku menangis dalam pangkuanmu, kau peluk aku dengan erat seperti saat aku kecil dulu

. Rinduku tak terlukiskan tapi rindumu lebih besar untukku. Ibuku sayang, engkau masih saja berjalan memutar bumi ini meski kakimu bernanah dan berdarah hanya untuk anakmu.Hingga saatnya kini di usiaku yang 19 ini, aku semakin mengnalmu, semakin ku tahu bahwa hatimu adalah samudra rahasia. Bila ku tatap wajhmu ibu, ada kenyamanan dalam jiwaku, air wudhu selalu membasahimu, tubuhmu yang semakin letih masih kau gunakan untuk bersujud dan memohon doa kepada Allah hanya untuk anakmu. Oh ibu, engkau adalah wanita yang paling kucinta, wanita yang paling ku puja. Darimu aku belajar pengorbanan yang tak harapkan imbalan, darimu aku belajar bahwa cinta bukanlah hany sekedar cinta, darimulah aku belajar bahwa mengangis tak akan menyelesaikan masalah, darimu aku belajar bahwa setiap tets keringat dan ir mata tidak ada dalam mata air.  Lelahku telah menjadi lelahmu, bahagiaku telah menjadi bahagiamu.. Dan kurasakan adanya cinta yang nyata yang selalu menemaniku setiap hari, Teringat saat 1,5 tahun yang lalu saat kau dengar aku berhasil masuk ke UPI, temapt yang kau harapkan untuk aku menuntut ilmu. Saat itu kau yang membantuku banyak berjuagn. Kau pikul beratnya beban ini sendiri.  Kau antar aku ke gerbang menuju kesuksesan. Kau katakan “Biarlah hanya ibu yang bodoh, jangan sampai anak-anakku menjadi bodoh sepertiku. Biarlah hanya aku yang merasakan kepedihan hidup ini, jangan anakku. Ya Allah.. lindungilah anakku, berikanlah segala harap dan citanya, mudahkanlah jalannya menggapai cita. Ya Allah.. jika boleh aku gantikan kesulitan anakku, biarlah aku yang memikulnya. Ya Allah, jika boleh aku yang sakit biarlah anakku sehat diperantauannya. Ya Allah, mudahkanlah jalannya, luruskanlah selalu niatnya. Meski aku tak disampingnya, raga ini tak dapat memeluknya erat, mengusap air matanya saat ia terjatuh, aku serahkan anakku padamu, engkaulah yang maha melindungi, engkaulah yang maha pengasih dan penyayang, Limpahkan lah kasih dan saynagmu kepada anakku. “ Ku dengar doa ibu saat aku hendak pergi ke perantauan.

Dalam sunyinya malam, lelahnya tubuh, ia sempatkan selalu ia selipkan selalu doa untukku bahkan mejadi doa yang sellau ia panjatkan. Belum bisa kugantikan itu semua wahai ibuku. Telah lama sudah sendii kau menunggu ini dalam langkah sepimu. Sungguh tak pernah ku kira bahwa akhirnya tiada dirimu disisiku. Meski waktu semakin berputar dan berganti, takkan pernah terganti dan hanya kau lah yang ada di relung hati ini. Sampai aku tak ammpu bertahan kau bukanlah hany sekedar indah wahai ibuku, kau penyejuk jiwaku, kau penerang hatiku. Kau bimibing aku untuk aku mencintaimu karenaNya. Tak ada yang bisa kubayarkan dengan apapun untukmu, meski ku miliki bumi bereta isinya tak mampu kubayarkan semua jasa dan pengorbananmu. Kau korbankan jiwa dan ragamu untukku. Meski aku masih seperti ini, belum bisa ku banggakan diriku padamu. Belum bisa ku bayarkan jasamu. Ya Allah, jika boleh aku meminta. Berikanlah aku sedikit waktu untuk menjadi pribadi ayng lebih baik, pribadi ayng sholehah. Karena dengan hanya menjadi anak yang sholehahlah aku bisa berkumpul denganmu disurgaNya kelak. Sungguh relah kau goreskan takdir ini antara aku dan dirinya. Meski aku terpisah oleh jarak, aku yakin bahwa suatu hari kau pertemukan aku, dan pada akhirnya kau kirim izrail untuk menjemputku terebih dahulu atau sebaliknya. Ya Allah, jika boleh hamba meminta biarlah hamba yeng merasakan sakitnya dicabut nyawa, jika boleh ku minta sayangilah ia sepertia ia menyayangiku di sepanjang jalan hidup ini, dan bahagiakanlah ia sepertia membahagiakan ku dalam 19 jilid kehidupan ini. Bawalah ia masuk ke dalam jannahMu, ingatlah selalu dirinya seperi ia selalu mengingatku.

Telah lama sendiri

Dalam langkah sepi

Tak pernah ku kira

Bahwa akhirnya, tiada dirimu di sisiku

Tak pernah ku duga, terungkap janjimu dan janjiku

Meski waktu datang dan berlalu sampai kau tiada bertaham

Semua takkan mampu mengubahku

Hnayalah kau yang ada di relungku

Hanyalah dirimu mampu membuatku jatuh dan mencinta

Kau bukan hanya sekedar indah

Kau takkan terganti…..

Takkan terganti dirimu, meski seluruh isi bumi dan langit ini kumiliki. Ya Allah, sayangilaj ia, seperti ia menyayangiku. Berikanlah kebarakahan selalu dalam sisa hidupnya. Wahai ibu, sungguh kasih dan sayangmu sepanjang jalan hidupku. Semoga engkau dan aku Allah pertemukan disurgaNya kelak. Ya Allah, saat aku terlahir, ibu mengangis karena kesakitan sedangkan sekeliling tersenyum penuh bahagia, izinkalah dalam jilid 19 hidupku ini, ku buat sekeliling menangis bangga melihatku sukses dunia dan akhirat sedangkan senyum tersemat di bibir ibu. Semoga ibu disayang Allah, semoga ibu dicintai Allah, Semoga ibu dilindungi AllaH. Karena sungguh hanya engkaulah wanita luar biasa setelah khadidjah, aisya dan shohibah lainnya. Jika mereka berjuang pada masanya memperjuangkan islam, aku melihat sosok wanita hebat yang mendidik anaknya menjadi anak yang sholehah, membesarkannya hingga menempuh 19 jilid hidupnya. Sungguh ini semua hanya karena wahai wanita yang tak kenal lelah, engkaulah Ibuku tercinta.

# 19 Jilid  Rahasia Wanita

(vina dwiyanti)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *